Oleh : Ari Dwi Sulissetiawan, S.Pd
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ،
Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis mengingatkan kita akan dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh umat manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ni‘matāni maghbūnun fīhima katsirun minan-nās: aṣ-ṣihḥatu wal-farāgh.
Artinya: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, kesehatan yang kita miliki saat ini tidak selamanya akan ada. Ada kalanya kita sakit sehingga tidak mampu mengamalkan amal-amal saleh. Demikian pula waktu luang yang kita miliki saat ini tidak selamanya kita miliki. Ada saatnya kita tidak memiliki waktu untuk mengamalkan ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Ibnu Jauzi rahimahullāh mengatakan bahwa dunia adalah ladang untuk beramal, tempat kita menanam amal untuk menuai hasilnya di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan kita, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti.
Barang siapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan kepada Allah, maka dialah orang yang berbahagia. Sebaliknya, barang siapa yang memanfaatkan keduanya dalam kemaksiatan, maka dialah orang yang benar-benar tertipu.
Oleh sebab itulah Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk bersegera dalam beramal saleh. Beliau bersabda agar kita segera beramal sebelum datang penghalang-penghalangnya:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ
Bādirū bil-a‘māl.
Artinya: “Bersegeralah kalian dalam beramal.”
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā juga ketika memerintahkan hamba-Nya untuk beramal selalu menggunakan lafaz yang menunjukkan percepatan, seperti firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
Wasāri‘ū ilā maghfiratin mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍ.
Artinya: “Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
Dalam ayat yang lain Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Fastabiqūl-khairāt.
Artinya: “Berlomba-lombalah kalian dalam melakukan kebaikan.”
Semua ini menunjukkan kepada kita bahwasanya hendaklah kita segera memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang untuk beramal sebanyak-banyaknya, agar ketika kedua nikmat ini telah hilang dari diri kita, kita tidak menyesal.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, hari demi hari mendekatkan kita kepada ajal. Jika kita lengah, maka kesempatan beramal yang satu-satunya di dunia ini akan hilang.
Ali radhiyallāhu ‘anhu berkata:
“Hari ini adalah hari beramal dan belum ada hisab. Kelak di akhirat adalah hari hisab dan tidak ada lagi kesempatan beramal.”
Maka jangan menunda-nunda amal, agar kita tidak termasuk orang-orang yang dikisahkan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dalam Al-Qur’an, yang berangan-angan ingin kembali ke dunia untuk beramal saleh, namun penyesalan itu sudah tidak bermanfaat.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, mungkin ini saja yang bisa saya sampaikan. Semoga kita dipertemukan kembali di lain kesempatan.
Billāhit-taufīq wal-hidāyah.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.


























Comment