Ngawi.pks.id — Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) resmi meluncurkan program IQRO PKS, sebuah ruang diskusi dan literasi untuk membaca, memahami, serta merespons dinamika peradaban dan isu-isu strategis kebangsaan.
Edisi perdana IQRO PKS digelar pada Kamis sore (29/1/2026) di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta. Program ini dirancang sebagai agenda rutin bulanan yang menghadirkan para pakar lintas disiplin untuk membedah persoalan bangsa dari berbagai perspektif.
Dalam sambutannya, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi, Administrasi, dan Literasi Kepartaian PKS, Rahmat Saleh, menyampaikan bahwa IQRO PKS akan diselenggarakan setiap bulan pada hari Kamis dengan mengangkat isu-isu aktual.
“Insya Allah kegiatan ini akan kita adakan secara rutin setiap bulan. IQRO menjadi ruang literasi untuk membaca isu-isu terkini sekaligus membedah gagasan para pemikir, baik nasional maupun internasional,” ujar Rahmat.
Pada edisi perdana ini, IQRO PKS mengusung tema “Keadilan Ekologis sebagai Jalan Melawan Serakahnomics”. Tema tersebut dipilih untuk merespons maraknya kerusakan lingkungan yang berdampak langsung pada bencana ekologis, seperti banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu.
Sejumlah narasumber dihadirkan untuk memberikan pandangan komprehensif. Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Meitri Citra Wardani, menyoroti persoalan keadilan ekologis dari sisi politik dan kebijakan publik. Ia menegaskan bahwa hingga kini Indonesia belum memiliki regulasi khusus terkait perubahan iklim.
“Konsep keadilan ekologis berangkat dari realitas bahwa kerusakan alam terjadi ketika manusia tidak lagi memposisikan alam sebagai mitra, melainkan sekadar komoditas. Siapa yang menguasai komoditas itu dan membuka pintunya, kalau bukan ranah politik,” jelas Meitri. Ia juga menyinggung RUU Pengelolaan Perubahan Iklim yang tengah dibahas di DPR sebagai langkah awal yang perlu dikawal bersama.
Dari perspektif sains dan tata kelola lahan, Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia, Arif Zulkifli Nasution, memaparkan data masifnya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, deforestasi yang terus berlangsung menjadi salah satu penyumbang utama pemanasan global dan krisis iklim.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Sahid Jakarta, Prof. Kholil, menekankan bahwa keadilan ekologis merupakan fondasi bagi keberlanjutan kehidupan yang harmonis. Ia menyebut, keadilan ekologis harus dibangun di atas tiga asas utama, yakni asas keadilan, asas keberlanjutan, dan asas kehati-hatian dalam pengelolaan lingkungan.
Melalui IQRO PKS, PKS berharap dapat mendorong lahirnya kesadaran kolektif, gagasan solutif, dan keberpihakan kebijakan yang lebih adil terhadap manusia dan alam.


























Comment